BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
Seorang Hamba Yang Lemah dan Penuh Kekurangan, Yg Terinspirasi dari Sosok Selembut Khadijah (Wanita yang Dicintai Muhammad) namun ingin Setegar Asiah...
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 24 Oktober 2018

Takdir ( Wajib Dibaca )


*Saya pernah membaca sebuah buku  yang saya sebut buku “kiri”, tak perlu saya menyebut judulnya, tak penting. Tapi isi dari buku tersebut adalah kisah seorang manusia yang menyalahkan Tuhan terhadap profesi maksiat yang dia jalani sekarang. Menurutnya, Tuhan adalah “sebab” dan dia adalah “akibat”. Karena Tuhan adalah sebab yang menciptakan dia maka Tuhan harus bertanggung jawab pula atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Yah,  buku ini sangat kuat dalam membalikkan iman-iman yang lemah untuk menyalahkan Tuhan.  Dalam kata pengantar bukunya, penulis tau dampak dari buku yang dia tulis pada kerusakkan iman seseorang, bukannya merasa bersalah, penulis balik menyalahkan iman orang-orang yang membaca bukunya.. Hmm..., penulis mungkin tak bisa disalahkan karena ia hanya menulis. Tapi sungguh sayang, ketika penulis dengan berani mengutip kata sang tokoh cerita utama, yang mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab dari terciptanya manusia, sehingga kemaksiatan manusia hanya menjadi dampak dari akibat-Nya, maka penulis-pun harusnya “sadar” bahwa dia juga sekarang melalui bukunya telah menjadi “sebab”, dan pembacanya yang kehilangan iman adalah sebagai “akibat” dari bukunya.  Andai dia mau berpikir, Mengapa penulis tidak menjadi sebab untuk menguatkan iman seseorang ? tidak sadarkah penulis bahwa masyarakat Indonesia sudah cukup lelah dengan kondisi hidup yang serba susah, sehingga jika disentil sedikit saja maka iman mereka akan luka. Penulis setuju atau tidak, pada akhirnya pundi pundi itu ia dapatkan dengan merusak dan menghilangkan iman manusia yang membaca tulisannya. Saya tak tahu, bagaimana kelak ia akan mempertanggung jawabkan bukunya di hadapan Allah SWT. Naudzubillah....
Disini saya tidak akan membedah buku, karena saya bukan seorang pembedah buku. Saya hanya ingin mengatakan bahwa buku tersebutlah yang meng-inspirasi saya untuk menulis artikel ini. Selain juga dari surat-surat yang masuk di email saya yang menanyakan, “Mengapa Allah men-takdirkan saya menjadi seorang pelacur, mengapa?,  “Apakah menjadi seorang homoseksual adalah takdir saya? Kenapa bukan orang lain, mengapa harus saya?” dan masih banyak pertanyaan lainnya seputar hal ini. Maka sebagai seorang muslim yang masih belajar, saya mencoba untuk sedikit meretas jiwa-jiwa yang kecewa pada Tuhannya, jiwa-jiwa yang terluka, jiwa-jiwa yang sempat kehilangan iman-nya sejenak karena penatnya kehidupan, termasuk meretas jiwa saya sendiri. Bismillahirahmanirrahim.
“Ini sudah takdir saya, saya hanya tinggal menjalani”. Begitu kira-kira jawaban manusia yang sudah terperangkap pada sebuah profesi  yang sedang dia jalani atau peran yang sedang dia mainkan. Jika profesi yang dia jalani dan peran yang dia mainkan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah, mungkin jawaban tersebut terasa nyaman di telinga. Tapi bagaimana jika profesi yang dia jalani dan peran yang dia mainkan adalah profesi dan peran yang diharamkan Allah?, maka jawaban tersebut bukan hanya tidak nyaman di telinga tapi menyesakkan dada dan melukai akal. Maaf, sebut saja seseorang yang profesinya adalah perampok atau pelacur dan kemudian mereka menyebut ini adalah sebuah Takdir dari Allah.! Atau seseorang yang menjadi homoseksual atau waria dan kemudian mereka menyebut ini juga bagian dari Takdir Allah? Seolah olah mereka tidak berdaya untuk mengelak dan seolah olah Takdir menjadi kambing hitam atau bahkan pelegalan dari aktifitas maksiat yang mereka lakukan.  jika takdir sudah menjadi jawaban atas semua itu, maka jelas Allah sang pembuat takdir harus bertanggung jawab atas semua kemaksiatan itu, sehingga dengan mudah manusia punya alasan untuk “Menyalahkan” Allah.  Astagfirullah ! Dan manusia sebagai penerima takdir tersebut tak patut dihukum atas kemaksiatan yang dilakukannya, tak perlu ada kiamat, hari akhir dan pertanggung jawaban di padang masyar. 
Sebelum membahas terlebih jauh, saya ingin sedikit menyegarkan ingatan kita tentang pelajaran agama yang pernah kita dapati di sekolah dulu.  Tentang bagaimana mata pelajaran agama menjelaskan pengertian dari Iman kepada Qadha dan Qadar? Seingat saya, kalau saya tidak salah, iman kepada qadha dan qadar adalah, percaya kepada takdir baik dan takdir buruk. Pengertian sesingkat ini kalau ditinjau kembali cukup membuat galau manusia. Mengapa, karena dari pengertian ini seolah-olah Allah ingin memberi warning kepada manusia untuk selalu bersiap siap bahwa Allah tidak hanya menimpakkan sesuatu yang baik bagi manusia tapi Allah juga akan menimpakkan sesuatu yang buruk bagi manusia. Intinya manusia harus bersiap siap menerima sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk dari Allah. Sekali lagi, kalau manusia ditimpakkan sesuatu yang baik pasti dengan senang hati hati manusia akan menerima. Lalu bagaimana kalau manusia ditimpakan dengan sesuatu yang buruk? Ada yang Ridho tapi sedikit,  lebih banyak yang marah, benci, putus asa,  frustasi, kecewa, hingga sampai pada kesimpulan “menyalahkan” Allah. Yang bermasalah pula ketika Takdir dimasukkan dalam perkara Qadha dan Qadar, padahal pengertian ketiganya berbeda sehingga membuat pemahaman kita semakin ruwet dan semrawut hingga menjadi benang kusut sut sut.
Selain masalah tentang bagaimana  hati manusia menerima terhadap pengertian takdir baik dan takdir buruk tersebut, yang menjadi masalah berikutnya adalah muncul ketika manusia menjalani kehidupannya.  Ada yang pasrah menerima keadaan hingga tak mau berbuat apa apa, menunggu Tuhan yang menggerakkan dirinya,  ada juga yang berusaha tapi dengan usaha yang “ala kadarnya” tapi menginginkan hasil yang maksimal. Ada juga yang berusaha tapi sebentar sebentar berhenti, berusaha lagi sebentar berhenti lagi begitu seterusnya, Dan ada pula yang kebelet berusaha sehingga terkesan memaksakan keadaan.  Lalu diantara semua itu, Kita termasuk bagian yang mana?
Insya Allah disini saya akan mengutipkan tentang pembahasan takdir, dan akan sangat bermanfaat jika kita bisa mengenal pula teman sejawat takdir yaitu Qadha dan Qadar tapi insya Allah nanti pada tulisan saya berikutnya. Marilah kita fokus pada permasalahan “Takdir” terlebih dulu.
TENTANG TAKDIR
Apakah kita percaya dengan Kekuasaan Allah? Bahwa kekuasaan Allah itu meliputi segala sesuatu yang ada di dunia ini, dimana tidak ada satu kejadian-pun yang luput dari dariNya.Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am  ayat 59 :
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Q.S. Al-An’AM : 59).
Inilah kekuasaan Allah SWT yang menandakan bahwa Dia-lah Tuhan Alam Semesta, yang Maha mengetahui segala perkara yang terjadi. Apakah perkara itu terjadi di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Semuanya diketahui oleh Allah SWT dan dituangkan-Nya dalam kitab Lawh Al-Mahfuzh. Sebenarnya masih banyak Al-Quran dan Hadits yang menjelaskan tentang ke-maha-tau-an Allah SWT atas segala sesuatu yang terjadi. Hingga dari semua nash-nash tersebut telah mengurai pada kita tentang pengertian takdir. Takdir itu sendiri adalah catatan (ilmu) Allah yang menyeluruh tentang segala sesuatu. Yang dimaksud dengan “segala sesuatu” adalah benda, manusia dan amal perbuatannya, alam semesta, kejadian dan sebagainya, semuanya telah tercatat/ diketahui oleh Allah swt dan dituliskan di lawh al-mahfuzh.  Inilah perkara yang wajib di imani oleh seorang muslim. ( Sumber : IPS, Hafidz Abdurrahman)
Makna dari semua ini adalah Allah SWT telah mengetahui segala sesuatu tentang manusia sebelum ia diciptakan. Dan juga mengetahui ketetapan nasibnya di dunia maupun di akhirat kelak (bahagia, atau celaka, sukses atau gagal, kaya atau miskin, umurnya dsb.)
Pembahasan masalah takdir sebenarnya hanyalah masalah pembahasan tentang kekuasaan Allah swt. Takdir merupakan ilmu Allah dan kekhususan bagiNya ( ilmu Allah mencangkup segala sesuatu karena Allah memang bersifat al-alim dan mustahil ada sesuatu yang tidak diketahui-Nya). Akan terasa lucu jika Allah yang berpredikat sebagai “Tuhan” tidak mengetahui perkara yang awal, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Jika dia tidak punya kekuasaan dalam mengetahui segala pekara dulu, kini dan nanti berarti Allah tidak punya kekuasaan, jadi buat apa Allah disembah? Jikalau begitu masih hebat “orang pintar”  yang notabene cuma manusia biasa tapi dia dapat menebak apa yang pernah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Maka Disini jelas menunjukkan bahwa Allah adalah benar-benar Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia. Anda, saya dan segala yang terjadi di dunia ini adalah berada dibawah genggaman kekuasaanNya.
Inilah perkara akidah yang harus kita pahami. Walaupun kita mengimani takdir (ilmu) Allah SWT tersebut, Namun janganlah kita “mencampur adukan” iman pada “takdir” dengan “amal perbuatan manusia”, karena keduanya memang tidak ada hubungan sama sekalipun. Artinya ilmu (takdir) Allah tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu, juga tidak pernah memaksa seseorang untuk tidak berbuat sesuatu.
Adalah kesalahan yang “fatal” jika kita men-campur-adukkan “takdir” dengan “amal perbuatan manusia”. Mencampur adukkan yang saya maksud disini adalah, “menggaitkan” antara “amal perbuatan yang telah kita lakukan” dengan ilmu Allah yang Maha mengetahui. Kesalahan fatal yang akan muncul dalam benak kita saat kita men-campur-adukkan keduanya  adalah, semisal kita melakukan sebuah amal perbuatan, sebut saja perbuatan negatif dan kemudian kita harus menangung “konsekuensi” dari perbuatan negatif tersebut yang tentunya tidak mengenakkan, maka mulailah dalam hati dan pikiran kita mulai berpikir kenapa ini menimpa saya dsb, dan jika kita sudah menemukan jalan buntu,  maka disini pasti kita akan menyalahkan Allah atas apa yang menimpa kita. 
Sebuah contoh dalam bentuk kisah; ada seorang wanita melakukan aktifitas pacaran dengan seorang lelaki, kemudian dia berzina hingga ia hamil diluar nikah, parahnya sang lelaki tidak mau bertangung jawab atas perbuatannya dan kemudian lelaki itu lari meninggalkan wanita tersebut begitu saja. Karena ingin menutupi aib, wanita tersebut kemudian menggugurkan kandungannya. Wanita tersebut kemudian mencoba memulai hidup yang baru. Disuatu ketika ia kembali berkenalan dengan seorang lelaki lain. Lambat laun dia-pun memulai hubungan dengan lelaki tersebut. Perzinahan-pun kembali dilakukannya dengan pacar keduanya tersebut. Tanpa diduga ia kembali hamil. Namun si lelaki ini tak mau pula bertangung jawab atas bayi yang dikandungnya dan kemudian pergi meninggalkan wanita tersebut. Wanita itu kembali terpuruk untuk yang kedua kalinya hingga lambat laun rasa kecewa dirinya pada lelaki memuncak. Dari apa yang terjadi pada dirinya, dia mulai menganggap bahwa semua lelaki di dunia ini sama, sehingga dia memutuskan membalaskan dendamnya kepada lelaki dengan cara membuat para lelaki jatuh cinta padanya tentu dengan memberikan tubuhnya. Setelah puas dia mempermainkan hati para lelaki maka dia kemudian meninggalkan lelaki tersebut. Disisi yang lain, kehidupan ekonomi keluarganya memburuk. Ia dituntut untuk membantu kehidupan orang tua dan adik-adiknya.  Karena semua itu, pada akhirnya wanita tersebut menerjungkan dirinya dalam dunia pelacuran.
Maka pada saat wanita ini mulai merasa jenuh pada keadaannya, ia mulai membandingkan alur hidupnya dengan alur hidup orang-orang disekitarnya yang menurutnya jauh lebih baik daripada dirinya,  membuatnya kemudian  berada pada titik nadir, maka sang wanita mulai marah kepada Allah. Hadir pertanyaan-pertanyaan yang bernada marah dan kecewa kepada Allah. Dia bertanya, mengapa Allah mempertemukan dia dengan lelaki tersebut yang menjadi awal dari kehancuran dirinya. Kenapa dia dibiarkan melakukan perbuatan zina, kenapa Allah tidak mencegahnya? Bukankah dia punya kuasa untuk mencegah hal itu? Dan pada akhirnya ketika dia ditanya kenapa menjadi seorang pelacur maka dengan hati yang marah dia akan menjawab, “ini adalah takdir saya”. Apakah pernyataan seperti ini bisa dibenarkan?
Jawaban seperti ini adalah jawaban dimana manusia tersebut telah mencampur adukkan antara “takdir” yang merupakan ilmu Allah dengan “amal perbuatannya”. Agar tak muncul kebingungan maka mari coba kita bedah satu persatu :
Seperti yang saya jelaskan di atas, takdir adalah bagian dari tanda “maha” kekuasaan Allah dimana Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Nah pertanyaannya, apakah ilmu Allah ini “diketahui” oleh manusia atau tidak? Apakah manusia dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar, besok dan esok? Apakah manusia mengetahuinya? Jawabannya Adalah TIDAK. Mengapa? Karena tentang takdir adalah tentang ILMU Allah, Milik Allah, dan kepunya Allah. Atau bahasa kasarnya itu  adalah “URUSAN Allah”. Apakah manusia bisa mengurusi urusan milik Allah? Adakah manusia yang mampu mengetahui urusan Allah ini? Boro boro mengetahui urusan Allah, urusan diri sendiri saja manusia tidak sanggup dan malah harus meminta tolong kepada Allah. Jadi please sob, biarkan itu menjadi urusan Allah saja dan menjadi rahasiaNya karena kita tidak akan sanggup dan bahkan tidak akan pernah bisa mengetahui urusan Allah ini meski kita mencari “orang pintar” terhebat di dunia ini. lagipula “orang pintar” juga tidak bisa mengetahui urusannya di masa depan, apalagi mengurusi urusan kita. Gak usah sok-sok an mau baca atau mau tahu urusan ALLah. Jadi, TAKDIR ADALAH URUSAN ALLAH TITIK. Cukup sampai disitu pemahaman kita.
Lalu URUSAN kita apa? 
Urusan kita manusia adalah hanya dalam hal sebatas“amal perbuatan”. Mengapa? Karena dalam melakukan “amal perbuatan” Allah memberikan kebebasan “penuh” kepada manusia untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Kebebasan penuh yang saya maksudkan disini adalah Allah tidak akan “langsung” dengan “datang” pada kamu memerintahkan kamu melakukan ini dan melarangmu melakukan itu, mencegahmu berbuat ini dan menyetujui kamu berbuat itu. Memukul tanganmu saat mencuri atau menghentikanmu saat kau sedang bermaksiat. No, Allah tidak akan “langsung” datang padamu seperti itu. Allah itu tidak gila urusan kayak kamu, Allah bukan bodyGuard kamu. So, Kamu mau kemana, mau pakai baju apa, mau berbuat apa, kamu sendiri yang bertindak dengan kekuasaan dan kebebasan penuh dirimu. Saya gak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Halah, daya nalarku terlalu tinggi sampai berpikir betapa ribetnya hal itu kalau benar-benar terjadi, betapa anehnya dan betapa...lucu dunia manusia. Stop.!
Maka muncullah pertanyaan berikutnya, lalu dimanakah fungsi “Akal” yang menjadi anugerah kesempurnaan spesial dari Allah buat manusia, jikalau setiap manusia mau berbuat dan bertindak Allah swt langsung “turun tangan”. dimana?
Sebelum menjawab peranan Akal, kita harus menyadari dulu bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT maka. Dalam beribadah ada namanya “aturan main” yang dibuat oleh Allah untuk mengatur manusia agar dia bisa selamat dunia dan akhirat. Aturan main ini telah Allah tuangkan dalam kalamnya AL-Quran dan As-Sunnah yang saya sebut keduanya sebagai “penuntun”  hidup jalan manusia. Maka disinilah letak peranan Akal. Dimana Akal yang yang menjadi anugerah spesial dari Allah tersebut “digunakan”  dalam melakukan setiap amal perbuatan yang tentu akal wajib di bimbing oleh Al-Quran dan As-sunnah. Akal akan menjadi “penakar” dan “penimbang” apakah amal yang kita lakukan sudah sesuai dengan perintah Allah ataukah merupakan larangan Allah. Akal disini akan menjadi Kompas. Seperti kompas yang dapat menunjukkan mana arah utara selatan barat dan timur maka akal yang dipunyai manusia akan menunjukkan mana jalan ke surga dan mana jalan neraka. Tentu Akal yang sudah diberikan pemahaman Islam. Jadi Allah tidak perlu turun tangan secara langsung untuk “membuatmu” bertindak dan berbuat. Semua tindakan amal perbuatanmu berada di wilayah yang bisa kamu kuasai.
Dalam kehidupan dunia ini, Allahpun sebenarnya telah mewanti wanti kita agar jangan salah dalam melakukan sebuah perbuatan karena setiap perbuatan ada konsekuensi yang harus kita tangggung. Karena dunia ini terikat dengan hukum “Kaidah kausalitas” atau hukum “sebab akibat” yang berlaku. Misal Jika kita melakukan hal ini maka konsekunsinya ini, jika melakukan itu maka konsekuensinyapun itu. Jadi  Allah tidak pernah “memaksa” manusia dalam melakukan sebuah amal perbuatan tetapi manusia itu sendiri yang bebas berbuat dan bertindak atas kesadaran penuhnya.
Maka mari kita Lanjutkan bedah kisah wanita tersebut. Supaya lebih mengena dan efisien, jangan tersinggung yah, saya ganti kata “wanita” itu dengan kata “kamu”. 
Lanjut, Walaupun Allah yang mempertemukan kamu dengan si lelaki, pertanyaannya, apakah Allah yang memaksa kamu untuk pacaran dengan lelaki tersebut. Analognya, Allah turun ke bumi dan mengatakan kepada kamu,  “hambaKu yang cantik, berpacaranlah dengan orang tersebut, sebab ia ganteng dan lumayan dia banyak uangnya”. Allah yang memaksa atau kamu yang dengan “kemauanmu” sendiri yang “mau” ketika diajak untuk berpacaran? Tentu kamu sendiri yang bertindak dengan kesadaran penuhmu. Setelah itu karena aktifitas pacaran telah terjadi maka tentu menuntut kamu untuk selalu berduaan dengan sang pacar. Dan pada saat nafsu tidak dapat dikontrol maka terjadilah zina.  Apakah Allah yang memaksa kamu melakukan itu atau itu kemauanmu sendiri? Kemudian, orang bodoh-pun paham bahwa sudah menjadi aturan Alam bahwa “pembuahan” itu dihasilkan dari proses bertemunya sperma dengan sel telur. Ada berlaku hukum “sebab akibat” disana. Jadi jika pada pembuahan prosesnya sempurna dan kamupun hamil. Kamu syok dan tanpa merasa bersalah dan malu kamu mengaduh. “ Ya Allah, kenapa saya bisa hamil?” Kamu ingin menyalahkan Allah? Sementara kamu sendiri sudah tau hukum sebab akibat tersebut. Yah kecuali kalau kamu tidak mau disebut orang bodoh yang tak tau proses itu. Please deh. 
Selanjutnya, ternyata laki-laki itupun pada dasarnya hanya menginginkan madu kamu saja, dan setelah tau kamu sudah kebobolan, lelaki itu kemudian pergi meninggalkan kamu. Ketika dengan mudahnya kamu memberikan madumu pada lelaki yang belum sah menjadi suamimu dan kemudian kamu hanya menyisakan rasa sakit,  siapa yang harus disalahkan?Maaf, mau menyela sedikit tentang hal ini. Sob, mana ada laki-laki sholeh yang mengambil madu dengan cara membobol?  Ingat, hanya pencuri atau penjahat yang melakukan pembobolan dan laki-laki yang sholeh tidak akan melakukan itu. Tau khan sifat pencuri dan penjahat? Setelah selesai membobol, kabur deh. Kecuali pencuri yang udah terlanjur “ketangkep basah”. :P
Lanjut, pada akhirnya kamu kemudian kecewa dengan makhluk yang bernama laki-laki dan membuat kamu mengangap bahwa semua laki-laki di dunia ini sama. Sehingga kamu-pun berniat balas dendam kepada laki-laki. Dan karena alasan himpitan ekonomi kamupun melakukannya demi mencari uang. Sehingga terjunlah kamu sekalian menjadi wanita pelacur dan menjadikannya sebagai sebuh pekerjaan. Hmm...pekerjaan apa coba yang maaf kerjanya hanya modal “goyangan” doang....? T T
Kembali ke kasus, mungkin ada yang bertanya, Jika Allah tau bahwa laki-laki tersebut akan membuat saya menjadi hancur mengapa Allah masih mempertemukan saya dengan Dia? Mengapa Allah tidak mencegahnya? Coba, jika seperti ini pertanyaannya, kira-kira apa jawabannya?
Sebenarnya saya susah hati untuk menjawab seperti ini. Tapi karena pertanyaan ini keluar dikarenakan ketidakpahaman dan pencampuran antara “takdir” dengan “amal” maka saya akan mencoba menjawab sesuai dengan ilmu yang saya pahami.
Sekali lagi, memang pertemuan kamu dengan lelaki tersebut tanpa sengaja adalah bagian “takdir”. Kenapa saya tau?  Ia, karena perkara ini sudah terjadi maka dengan berani saya menyebutnya sebagai takdir. Tapi apakah kedepannya kamu bisa menebak apakah kamu akan terus bertemu dengannya? Kemungkinan itu bisa terjadi jika kamu dan dia berjanji untuk bertemu. Dan kemungkinan untuk tidak bertemu juga ada jika kamu menolak untuk bertemu dengan dia. Semua menjadi pilihan kamu karena ini adalah sudah masuk dalam bentuk amal perbuatan yang dapat kamu kendalikan.
Untuk Allah...Yah, Allah tau. Tapi pertanyaannya apakah kamu tahu apa yang “diketahui” Allah?  Apakah ketika kamu bertemu dengan lelaki tersebut maka langsung muncul dalam pemikiran kamu, kamu langsung mengetahui, "hmm...ini lelaki yang dikemudian hari akan berzina dengan saya, yang membuat hamil saya dan kemudian akan meninggalkan saya.” Kamu bermimpi dan terlalu banyak menonton sinetron kelas rendahan. Tentu saja jawabannya Tidak...ketika bertemu kamu hanya tau bahwa dia adalah lelaki dengan wajah manis yang adalah anak juragan pete di daerahmu. That its. Itu saja. 
Pada dasarnya kamu sendiri yang bertindak ketika dia ajak kenalan. Kamu diberikan pilihan mau atau tidak. Setelah itu dia mulai ajak pacaran, kamu juga diberikan pilihan, mau atau tidak. Setelah itu ketika dia mengajakmu berzina, kamu bisa saja mau atau tidak dengan cara menamparnya sekeras-kerasya dan meneriakkan padanya bahwa “aku bukan wanita rendahan” dan kamu pergi dari situ. Maka bisa zina itu takkan terjadi.
Atau kita kembalikan kisah dari awal pertemuan saja karena disini letak perseteruannya. Jika kita jeli, dalam setiap “hasil” ada “proses” yang mendahuluinya. Jika kamu menolak untuk bertemu pada pertemuan yang dia minta. Maka semua cerita mulai dari pacaran, zina, hamil, kecewa dan pada akhirnya sampai menjadi pelacur itu tidak akan pernah terjadi.
INTINYA,
Kalaupun saat ini kamu adalah seorang pelacur, jika kamu memutuskan untuk berhenti saat ini juga untuk menjadi pelacur, menolak semua godaan uang yang menggiurkan, khan bisa? Coba, Apa Allah mencegahmu? Meski dunia memaksa dan menentangmu tetapi jika kamu bersikeras untuk merubahnya dengan kesadaran penuh beserta "tindakan nyata", maka tidak ada yang bisa menghadangmu. Kamu yang punya tubuh dan menguasainya, karena itu kamu yang melakukan usaha itu. Lagipula,  ketika kamu sudah berhenti menjadi pelacur maka kamu telah "pergi" dari takdir seorang pelacur "menuju" ke takdir seorang wanita baik-baik.
Mari belajar dari kisah Umar ra berikut ini
Khalifah Umar ibn al-Khaththab mengkritik Abu Ubaydah ketika ia mengaitkan masalah takdir dengan usaha manusia. Pada tahun berjangkitnya wabah penyakit thâ’ûn (pes), Khalifah Umar berangkat keluar dari Madinah menuju ke wilayah Syam. Sampai di suatu tempat dekat Tabuk, beliau ditemui oleh para panglima perang yaitu Abu Ubaydah ibn al-Jarrâh, Yazîd ibn Abi Sufyân, dan Syurahbîl ibn Hasanah. Mereka memberi informasi bahwa di negeri Syam tengah berjangkit wabah penyakit. Mereka juga menceritakan sebagian fakta dari wabah penyakit itu dan keganasannya. Khalifah ‘Umar menjadi khawatir mendengarnya. Pada sore harinya, Khalifah mengumpulkan para shahabat Muhajirin yang pertama-tama masuk Islam. Beliau mengajak bermusyawarah, apakah tetap akan melanjutkan perjalanan menuju Syam, sementara di sana terdapat wabah penyakit, ataukembali ke Madinah. Para shahabat Muhajirin berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, “Khalifah, Anda keluar mencari ridha Allah dan pahala dari-Nya. Oleh karena itu, kami berpendapat, Anda tidak boleh terhalang oleh adanya bencana yang datang kepada diri Anda.” Yang lain berpendapat, “Karena di sana ada bencana dan wabah, kami berpendapat, Anda tidak perlu melanjutkan perjalanan menuju ke sana.”Sahabat Anshar juga berbeda pendapat seperti halnya para shahabat Muhajirin. Mereka menyatakan pendapat yang sama seolah-olah pernah mendengar permusyawarahan sebelumnya, kemudian mengulanginya kembali.
Kemudian Khalifah ‘Umar ra kemudian mengumpulkan para shahabat yang berhijrah pada masa penaklukan kota Makkah yang terdiri dari orang-orang Quraisy. Beliau mengajak mereka bermusyawarah. Ternyata, tidak ada satu pun di antara mereka yang berbeda pendapat. Semuanya sepakat mengatakan, “Kembalilah Anda, wahai ‘Umar, beserta kaum Muslim, ke Madinah. Sebab, wabah tersebut adalah suatu bencana dan akan menghancurkan.”
Khalifah ‘Umar lantas memerintahkan Ibn ‘Abbas agar menyeru kaum Muslim untuk mempersiapkan keberangkatan mereka subuh keesokan harinya. Ketika tiba waktu subuh dan kaum Muslim telah melaksanakan shalat subuh, ‘Umar ra mengarahkan pandangannya kepada kaum Muslim seraya berkata, “Aku akan kembali ke Madinah. Oleh karena itu, hendaknya kalian pun kembali!”. Pada saat itu, Abu Ubaydah mendengarnya, sementara sebelumnya ia tidak menghadiri musyawarah Umar ra dan tidak mengetahui kesimpulannya. Tatkala mengetahui perintah Umar tersebut, ia berkata kepada Umar ra, “’Umar, apakah Anda akan lari dari takdir Allah?” . Umar merasa kecewa atas penentangan tersebut. Beliau kemudian menatap Abu Ubaydah dengan tajam beberapa saat. Tak lama kemudian beliau berkata, “Andaikata orang lain yang mengatakan begitu, wahai Abu ‘Ubaydah, tentulah pantas. Benar, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.Beliau lalu menundukkan pandangannya dan meneruskan ucapannya, “Bagaimana pendapatmu seandainya ada seseorang yang mendiami suatu lembah yang mempunyai dua jenis tanah; yang satu subur dan yang lainnya tandus. Bukankah orang yang menggarap tanah yang tandus itu atas takdir Allah? Begitu juga orang yang menggarap tanah yang subur, bukankah atas takdir Allah pula?”
Percakapan antara shahabat Umar dengan Abû Ubaydah dan kritik Umar atas penentangannya menunjukkan bahwa kedua shahabat tersebut memahami bahwa takdir adalah ilmu Allah. Hanya saja, Umar memandang bahwa takdir Allah tidak berkaitan dengan obyek pembahasan hukum kaidah kausalitas. Berangkat ke wilayah Syam, sementara di sana tengah berkecamuk wabah penyakit thâ’ûn (pes), bisa saja mengantarkan manusia kepada kematian. Kembali ke kota Madinah berarti mengambil sebab yang mengantarkan pada keselamatan dari wabah penyakit thâ’ûn. Oleh karena itu, beliau mengkritik abu Ubaydah yang menentangnya dan berkata, “Andaikata orang lain yang mengatakan begitu, wahai Abû ‘Ubaydah, tentulah pantas.”. Umar malah tidak merasa cukup dengan kata-katanya itu. Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa pergi ke wilayah Syam adalah pergi dengan takdir Allah, sementara kembali ke kota Madinah adalah juga kembali dengan takdir Allah, yaitu dengan ilmu Allah.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa takdir tidak bisa dihubungkan dengan amal perbuatan. Di samping itu, seseorang tidak dibenarkan meninggalkan sebab-akibat hanya karena alsan takdir. Umar dan para shahabat, meskipun beriman kepada takdir Allah secara mutlak, mereka tidak pernah berserah diri terhadap keadaan yang telah ditakdirkan. Mereka justru mencari sebab (jalan) yang bisa menyelamatkan mereka dari keadaan. Oleh karena itu, tampak sangat jelas bahwa, berserah diri terhadap keadaan secara mutlak, yang biasa dikenal dengan qadriyah ghaibiyyah, bertentangan dengan Islam. bahkan, kita harus berusaha untuk mengubah keadaan atau menyelamatkan diri dari kondisi seperti itu. Demikian, seorang Mukmin
Saya sendiripun jikalau saya mau, saat ini juga saya bisa melepaskan jilbab dan khimar saya dan keluar dengan pakaian yang seksi di jalanan. “kalau saya mau” maka itu akan terjadi. Siapa yang mau menghentikan saya? Tapi saya memilih untuk tidak mau. Pilihan saya yang tidak mau adalah “amal perbuatan” saya yang menjadi urusan saya. Dan ketika saya berpindah dari masa jahiliyah ke masa islam maka saya telah memilih takdir saya. Untuk ini saya bersyukur sangat kepada Allah SWT atas hidayah yang dia beri.
Rasulullah SAW telah juga melarang para sahabatnya mencampur adukkan pemahaman takdir dengan amal perbuatan manusia yang dapat menyebabkan manusia tidak mau berusaha dalm hidupnya. Harus dipahami bahwa ada perbedaan antara apa yang harus diyakini dan apa yang harus dikerjakan.
Telah diriwayahkan dalam Shahih muslim dari Ali  bin Abi Thalib RA :
“Rasulullah SAW suatu hari pernah duduk duduk (bersama para sahabat). Di tangan beliau ada sepotong kayu. Lalu dengan kayu itu beliau menggores (tanah). Kemudian beliau mengangkat kepala dan berkata : “setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tmpatnya di surga atau di neraka. “para sahabat terkejut, lalu bertanya, “ kalau demikian ya Rasulullah, apa gunanya kita beramal? Apakah tidak lebih baik kita pasrah saja (pada takdir)? Beliau menjawab, “jangan, tetaplah beramal. Sebab, setiap orang akan dimudahkan oleh Allah jalan yang sudah ditentukan baginya. “lalu rasulullah membaca surat Al-Lail 5-10. (imam an-nawawi, shahih muslim, XVI/196-197)
Sesungguhnya islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan bekal akal, kekuatan, persiapan tenaga dan ilmu agar ia mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar sebagai standar perbuatannya. Dengan demikian secara sukarela manusia akan memilih ( tanpa adanya unsur paksaan) kehendaknya sendiri. Sebab sesungguhnya takdir hanyalah pemberitahuan tentang ilmu Allah yang sangat luas, meliputi segala sesuatu. Ilmu Allah tidaklah pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. (lihat : imam al-khattabi dalam Sayyid sabiq, aqidah islam al 151)
Tak ada seorang manusia-pun yang tahu apa yang tertulis bagi dirinya di lawh al-mahfuzh. Karenanya, tidak bisa "dibenarkan" jika ada seseorang yang berkata, “saya berbuat begini karena telah dituliskan oleh Allah swt di lawh al-mahfuzh harus berbuat begini.” Sebab darimana ia tahu bahwa Allah telah menuliskan perbuatan tersebuat baginya di lawh al-mahfuzh?
RAHASIA AMAL PERBUATAN
Kamu tau kenapa Allah SWT memberikanmu "kebebasan penuh" dalam bertindak? Karena Allah swt telah memberikanmu akal. Allah swt memastikan bahwa anugerah akal yang Ia beri jika kamu gunakan sesuai fungsinya maka kamu mampu "mengendalikan" semua perbuatanmu sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dan sekaligus "melawan" semua godaan yang menerpamu serta memilih jalan yang akan kamu tempuh. Karena keberadaan akal itulah yang menjadikan Allah swt "BERHAK" untuk "meminta pertanggung-jawaban" dalam setiap amal perbuatanmu di akhirat kelak. Selain memberikanmu akal Allah swt juga menurunkanmu Al-Quran dan As-Sunnah untuk menjadi penunjuk arah, maka itulah Allah swt  "BERHAK" pula untuk memasukanmu dalam Surga atau NerakaNya.
Dari sini kita dapat menyimpulkan Rahasia dari amal adalah karena amal perbuatan manusia menghasilkan yang namanya "pahala" dan "dosa". Sementara "takdir" atau ilmu Allah swt tidak menghasilkan "pahala" dan "dosa' melainkan hanya "ilmu" Allah swt semata, yang notabene menjadi URUSAN Allah swt. Selanjutnya "pahala" dan "dosa" inilah yang akan "ditimbang" dalam timbangan Allah. "Hasil" dari timbangan inilah yang akan menentukkan apakah kamu berhak menerima surga-Nya Allah SWT atau berhak menerima Neraka-Nya Allah.
Rahasia dari amal perbuatan manusia sudah "terkuak". Hasil dari amal perbuatan manusia sudah "terkuak". Jika rahasia ini sudah terkuak, alasan apa lagi yang dapat kamu gunakan untuk "mengkambing-hitamkan" takdir atas segala kemaksiatan yang kamu lakukan. Alasan apa lagi yang dapat kamu gunakan untuk menyalahkan Allah swt atas apa yang menimpamu?
Manusia yang sudah mengetahui Rahasia dari amal perbuatan ini dan kemudian memahaminya maka insya Allah dia akan "bijak" dalam bertindak dan bertingkah laku. Sebab dia tau bahwa apa-pun yang dia lakukan dan apa yang akan dia perbuat akan diminta pertangging-jawaban di hadapan Allah swt kelak.
KESIMPULAN
Apapun amal perbuatan yang kamu lakukan hari ini, profesi yang kamu lakoni saat ini apakah memilih menjadi pelacur atau pedagang, menjadi dermawan ataukah penjahat, menjadi normal ataukah menjadi homoseksual,  apakah itu amal baik atau amal buruk itu merupakan pilihan kamu sendiri untuk mengerjakan. Karena semua itu tunduk pada kekuasaan “pilihanmu”.  Mau berhenti jadi pelacur atau terus, mau berhenti jadi penjahat atau terus, mau terus menjadi homoseksual atau berhenti, semua itu berada dibawah kendali dirimu sendiri. Maka marilah kita jujur sejujur jujurnya pada diri kita sendiri, rasanya tak pantas dan hina jika kita menyalahkan Allah atas takdir yang menimpa kita. 
Hamba yang mengimani takdir dengan tidak mencampur addukkannya dengan amal perbuatan, ia akan “tegar” dalam mengarungi kehidupan. Jika Allah SWT memberikan kebaikkan ia bersyukur dan ketika diuji ia bersabar dan ikhlas. Ia siap menjadi “PETARUNG” dalam mengarungi dunia yang begitu penuh dengan segala godaan, bukan PECUNDANG yang suka mengkambing hitamkan takdir. 
Semoga dengan tulisan kecil ini dapat mengobati "luka" hati pada sang Khalik, bisa mengurai "kecewa" hati pada-Nya. Serta mampu menyemai kembali iman-iman  kita yang telah "rapuh" dan yang "hamir rapuh" dengan "menguatkanya". Terkhusus untuk diri ini yang masih jauh dari ikhlas dan sabar saat di uji olehNya. TT
Sehingga sajadah yang seharusnya usang karena tersentuh dahi bukan usang oleh  karena waktu dapat kita gelar kembali di atas bumi tempat kita berpijak.  
"Percayalah seperti kasih ibu yang luas pada anak-anaknya maka percayalah kasih Allah swt tentu "jauh lebih luwas". 
"Jangan putus asa atas kasih sayang dan rahmat dari Allah swt. Selama kita mencoba untuk "taat padaNya. Karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya yang sudah "berpayah-payah" untukNya.
Apa yang kalian semai hari ini maka itu pula yang akan kalian semai pada hari esok. Karena itu buatlah pilihan takdirmu sekarang, karena pilihan takdirmu sekarang akan menentukan Surga dan Neraka-mu. Memilih-lah selama hak memilih masih ditanganmu sebelum hak itu dicabut. Ingat, PETARUNG dan PECUNDANG akan mendapatkan tempat yang berbeda di akhirat kelak. So, selamat memilih. :)
Asiah Muslimah


Sumber:Islam Politik dan Spritual, Hafidzh Abdurrahman, Al-Azhar press.Materi Dasar Islam, Arief B. Iskandar, Al-Azhar press.Kaidah kausalitas, majalah  Al-Wa’ie terbitan Beirut.

Bagi Tukang Selingkuh ( Sama Saja Rasanya)


Selingkuh, sekarang bukan lagi barang tabu. Di zaman kapitalisme ini, selingkuh sudah menjadi trend di masyarakat. Saking trend-nya, selingkuh bahkan menjadi cara untuk mengeksiskan diri dalam komunitas tertentu. Lebih ironi Para pelaku selingkuh-pun tidak malu malu berjalan di depan umum meski mereka sudah ketahuan selingkuh. Itu muka tebal betul.
Yang lebih lucu lagi adalah cerita di negeri ini. Masih ingat kah kita tentang kasus  sorang selebritis yang berselingkuh dengan wanita wanita yang sudah bersuami? Bukannya mendapat hukuman social, penyanyi itu malah semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Dibela belain, di dukung  saat dia menjalani hari-hari dalam penjara, dibuatkan poster….ketika keluar, dia disambut meriah sampai jadi trending topic siaran gossip murahan, seolah dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa…karirnya lebih melejit setelah dia ketahuan selingkuh dengan istri orang. Halooo itu orang selingkuh, orang zina.  Ada apa dengan masyarakat indonesia!
Mengapa para pelaku selingkuh adem ayem melenggang tanpa dosa? Dikarenakan tidak ada lagi “sanksi sosial” yang diberikan masyarakat. Masyarakat seakan acuh, merasa bodoh dengan maksiat mereka. Atau bukan karena tidak adanya sanksi social, tetapi bisa jadi masyarakat-pun diantaranya adalah para pelaku selingkuh.
Greget hati ini melihat kondisi masyarakat saat ini. Apalagi kejadian selingkuh ini terjadi di lingkungan tempat saya tinggal. Coba, Tetangga samping kanan, kiri, depan rumah saya, semuanya diselingkuhi oleh istrinya.  Padahal tampang tampang suami mereka mereka gak jelek jelek amat. Dalam hal harta, mereka termasuk orang orang yang berada. Rumah ada, kendaraan ada, tapi tetap saja para istri-istri mereka melakukan selingkuh. Why?
“Ah, urusan rumah tangga orang, bisa jadi para istri selingkuh karena suami mereka bermasalah. Gak perlu ikut campur. Belum tentu yang selingkuh itu lebih baik daripada kita. Toh dia juga pasti punya alas an selingkuh. Kita saja belum tentu baik dalam kehidupan rumah tangga ”. itu kata tetangga saya yang tetangganya selingkuh. Kalo semua orang berpikirnya sama  seperti tetangga saya yang tetangganya selingkuh ini, maka mari kita semua selingkuh…! Hidup selingkuh!
Atau kucarikan wanita lain untuk berselingkuh dengan suaminya supaya dia tau rasanya diselingkuhi dan disaat dia minta pembenaran perasaan sakitnya kepada saya atau tetangganya yang lain maka kami akan mengatakan dengan jawabnnya. “suami-mu pasti punya alas an menyelingkuhi dirimu, sadar diri saja!”. Aku gak kebayang akan ada episode jambak jambak rambut, bukan antara istri yang diselingkuhi dengan selingkuhan suaminya, tapi antara istri yang diselingkuhi dengan tetangganya. Dunia oh dunia.
Untungnya pemikiran saya jauh melenceng dari pemikiran tetangga saya yang tetangganya selingkuh. Saya tidak perduli urusan rumah tangga mereka. Tetapi jika urusannya adalah urusan selingkuh yang sebagian besar dibumbui dengan zina, maka itu jadi urusan saya.  Maaf bukan kepo, tapi saya takut, jika zina itu sudah menjadi sesuatu yang lazim di daerah saya, maka kami tinggal menunggu bencana apa yang akan datang menerpa daerah kami. Sebab bencana yang Allah datangkan tidak bermata dan tidak bertelinga dan tidak berperasaan. Tidak memakai istilah tebang pilih. Semua penduduk daerah tersebut akan tertimpa bencana tersebut. Hanya karena kita DIAM dan MEMBIARKAN
Balik lagi dengan urusan selingkuh. Banyak factor yang membuat seorang suami atau istri untuk berselingkuh. Saya tidak akan membahas banyak factor tersebut. Saya bukan penasehat perkawinan. Tetapi saya hanya akan membahas pada satu aspek saja yaitu factor “ketidakpuasan” atas pasangannya masing-masing. Karena ini yang saya lihat menjadi factor pemicu besar terjadinya selingkuh.
 

 
RASA YANG SAMA
Saya pernah membaca sebuah tulisan yang akan saya ceritakan bagi kalian semua. Karena sumbernya saya sudah lupa karena begitu lamanya, maka seperti biasa, saya akan becerita dengan versi saya  J
Di suatu negeri, ada Seorang bangsawan yang sangat kaya raya. Karena kebaikkannya bangsawan itu sangat dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Namun bukan karena harta dan kebaikkannya membuat ia jadi topic  pembicaraan orang-orang.  Melainkan karena ia  memiliki seorang istri yang sangat cantik parasnya. Bukan Cuma itu, kulit yang putih dan tubuh yang langsing semakin menambah kesempurnaanya menjadi soerang wanita. Pada akhirnya kecantikan dan kemolekkan tubuh sang istri telah menjadi fitnah bagi sang bangsawan.  Seluruh lelaki di kota itu baik yang sudah beristri atau-pun belum selalu menceritakan kecantikan  istrinya. Sungguh sangat tidak enak di telinga sang suami ketika seluruh kota mengagumi kecantikan istrinya sampai begitu berlebihan.
Tidak nyaman, dengan istrinya yang jadi bahan pembicaraan para lelaki, sang bangsawan itu berpikir keras bagaimana agar orang-orang berhenti menceritakan istrinya. Hingga pada suatu hari, sang bangsawan mengundang seluruh laki laki yang berada  di negeri tersebut pada sebuah jamuan makan malam. Di tempat itu, setiap orang diberikan tempat duduknya masing masing. Meja dihadapan mereka telah disediakan sebuah piring yang berisi kue. Hanya saja kue tersebut berbeda  warna di setiap piringnya. Ada yang mendapat kue yang berwarna merah, ada yang putih, ada yang  coklat,ada yang hijau dan berbagai warna lainnya. Meski kue kue tersebut mempunyai perbedaan warna tetapi bentuk dari kue tersebut sama antara kue yang satu dengan kue yang lainnya.
Setelah saatnya tiba, bangsawan tersebut mempersilahkan para hadirin untuk mencicipi kue tersebut dan meminta mereka memberi tanggapan dari setiap kue yang mereka makan, mana yang paling enak menurut mereka. Setelah mencicipi kue tersebut dan menghabiskannya para hadirin mulai memberi tanggapan atas kue yang baru saja mereka santap.
“Kue yang berwarna putih ini, enak rasanya. Saya sangat menyukainya” ujar seorang laki laki yang duduk di sebelah kiri.
“siapa bilang, kue yang berwarna hijau ini enak rasanya”. Sambut laki-laki yang lain yang menyantap kue berwarna hiaju.
“tunggu dulu, Kue coklat ini juga enak rasanya, mungkin ini yang paling enak” ujar laki-laki yang lain yang mendapatkan kue berwarna coklat.
Pada akhirnya,  para hadirin yang datang saling berbantah bantahan antara yang satu dengan yang lain. Masing-masing saling menggunggulkan kue yang barusan mereka santap. Kejadian itu terus berlangsung  Hingga sang bangsawan tersebut menenangkan seluruh tamu yang hadir. Setelah semuanya terdiam, sang bangsawapun berkata kepada para tamunya,
“wahai para tamuku, ketahuilah. Sesungguhnya kue yang kalian makan tersebut, Apakah itu yang berwarna putih, hijau, coklat, kuning dan warna yang lainnya, mempunyai rasa yang sama. mengapa? semua dibuat dengan bahan campuran yang sama dan diaduk bersama sama. Yang membedakan kue kue tersebut hanyalah warnanya  yang tentu tidak akan banyak mempegaruhi rasanya. Setelah kalian merasakannya maka kalian akan mendapatkan rasa  “kenyang yang sama” tidak akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya”.
Mendengar perkataan sang bangsawan, maka semakin diamlah para tamu tersebut. Kemudian sang bangsawan melanjutkan kembali,
“sama seperti wanita, apakah dia berwajah cantik atau tidak, berkulit putih atau tidak, bertubuh langsing atau tidak, mereka tetap mempunyai bagian tubuh yang sama yang tentu saja mempunyai rasa yang sama saat kalian bermesraan dengannya”. Mengapa? Karena mereka adalah sama sama wanita yang tidak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya”.
Mendengar perkataan sang bangsawan, para hadirin tertunduk malu, tahulah mereka apa maksud dari hidangan kue pada jamuan makan di malam hari itu. Sebelum pulang, para hadirin kemudian meminta maaf kepada sang bangsawan atas perkataan mereka. Semenjak kejadian hidangan makan malam tersebut, tidak ada laki-laki yang mengosipkan istri sang bangsawan tersebut. Sehingga membuat sang bangsawan menjadi tenang.
Sobatku, ibrah apa yang bisa kita tangkap dari cerita ini?
Sesugguhnya, semua wanita yang ada di dunia ini entah berwajah cantik atau tidak, berkulit putih atau tidak, bertubuh langsing atau tidak, mereka tetap mempunyai bagian tubuh yang sama. mengerti khan?(jangan ngeres…) Tidak ada yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.
Yang dimana maaf ketika kalian bermesraan dengannya kalian tetap mendapatkan “rasa” kulit yang sama. Mau sensasinya yang bagaimana bagaimana, pada puncaknya tetap  keadaan“org****” sama., tidak akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Maaf terlalu vulgar apa yang saya katakan tetapi ini adalah faktanya. Jangan piktor yah….
Jadi jika para lelaki yang ingin mencari kenikmatan yang berbeda dengan melakukan selingkuh, maka pada dasarnya mereka telah tertipu pada apa yang dilihat mata mereka. Dan ini berlaku pula pada seorang wanita yang merasa tidak puas dengan suaminya sehingga selingkuh dengan laki-laki yang lain.
Mari kita berbincang tentang makna kepuasan?


 
YANG HALAL YANG NIKMAT
Berbicara tentang kepuasan maka sifat dari manusia itu adalah tidak akan pernah puas.
 Selalu merasa tidak puas itulah manusia. Tapi hal itu hanya akan berlaku bagi manusia yang “future” nikmat. Bukan bagi manusia yang “pandai” bersyukur. Manusia yang future nikmat tidak akan merasakan kepuasan karena ia sudah lebih dulu mengingkari apa yang dia dapatkan.
Seseorang yang mencari kenikmatan dengan melakukan selingkuh tidak akan mendapatkan nikmat kepuasan yang sesunggunya. Meski  objek selingkuhan itu lebih apalah apalah dari istri atau suaminya. Selingkuh adalah perbuatan yang haram, yang akan mendapat azab Allah apalagi sampai berzina. Dosanya termasuk dosa yang besar.  Belum lagi, dia akan di ikuti dengan perasaan bersalah. Maka kepuasan kepuasaan itu akan berkurang nilainya karena dikejar perasaan perasaan tadi. Bahkan mungkin waktu penyesalan akan lebih banyak porsinya daripada waktu nikmatnya. Kenikmatan yang bercampur dengan dosa adalah kenikmatan yang semu, melenakan tetapi menghancurkan.
Maka sebenarnya, jika kita ingin mendapatkan nikmat kepuasan maka rahasianya adalah “Halalkan”!, atau lakukan dengan yang “halal”. Senikmat nikmat apa yang kalian rasakan tidak akan senikmat yang halal. Kenapa bisa begitu?  Karena yang halal pemenuhannya akan mendapatkan ridho  Allah dan pahala dari_Nya. Jadi, bukan hanya mendapatkan nikmat dan kepuasan tetapi  juga mendapatkan pahala. Jadi Jima' merupakan ibadah yang sangat besar.  Rasulullah saw bersabda :
 
"Dalam kemaluanmu itu Ada sedekah". Sahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah Kita mendapat pahala Dengan menggauli istri Kita?." Rasulullah menjawab, "Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di Jalan yang haram akan berdosa ? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di Jalan yang halal, kalian akan berpahala."
 (H.R. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah).
 
 
JANGAN MENGAMBIL YANG BUKAN HAKMU.
Seorang suami atau seorang istri yang tidak puas pada pasangannya akan mengambil langkah lain dengan cara selingkuh. Tidak tanggung-tanggung yang diselingkuhi adalah istri orang atau suami orang. Kasus ini paling banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat kita.
Seorang istri yang berselingkuh dengan laki-laki yang bukan suaminya adalah wanita yang maaf, busuk kelaminnya. Wanita yang telah kehilangan kehormatan dan harga dari dirinya. Yang rela memberikan begitu saja tubuhnya kepada selingkuhanya. Memberikan “hak milik” suaminya, laki laki yang bercucur keringat untuk menghidupi kebutuhan perutnya. Hanya karena “godaan” sesaat.
Terkadang para istri Jika bermasalah dengan suaminya selalu melihat suami orang lain atau lelaki lain. Hanya karena perkenalan singkat yang mau mendengarkan curhat-curhat mereka, mereka telah  berpikir bahwa laki laki yang dia selingkuhi lebih baik daripada suaminya. Siapa bilang? Justru dia adalah laki-laki yang lebih bejat daripada suaminya yang bejat. Karena jika dia lelaki yang baik maka dia justru akan menghindari  karena posisi wanita itu adalah wanita bersuami. Dia Akan menempatkan posisinya sebagai laki-laki yang bersuami yang akan tersakiti jika istrinya melakukan hal yang sama. Jatuh cinta sama lelaki seperti ini? kelaut aja bu…!
Sama dengan istri yang berselingkuh maka seorang laki-laki yang berselingkuh adalah laki-laki yang maaf, busuk kelaminnya. Lelaki yang telah kehilangan kehormatan kelaki-lakiannya. Yang mencari kepuasan dengan berselingkuh dengan wanita yang lain. Apalagi wanita tersebut sudah bersuami. Dia berpikir bahwa wanita yang dia ajak selingkuh lebih baik daripada istrinya hanya berdasarkan kenyamanan dalam curhatnya dan  kepuasan semata.  Laki-laki yang begini yang harus di bongkar. J

 
 JALAN SELINGKUH
Kesalahan fatal dari pasangan suami istri ketika bermasalah dengan pasangannya adalah pergi mencari tempat curahan hati. Yang wanita curhat kepada laki-laki, dan yang laki-laki curhat kepada wanita. Padahal, dari jalan curahan inilah lahir benih benih selingkuh yang tidak pernah disadari. Apalagi tempat curahannya mau mendengar dengan setia dan ada disetiap dibutuhkan. Maka jatuhlah mereka dalam perangkap setan.
Seorang wanita yang bersuami pernah curhat kepada saya. Dia mengatakan bahwa laki-laki yang menjadi tempat curhatnya sangat baik bahkan lebih baik daripada suaminya. Saya-pun berkata pada wanita tersebut bahwa,  “Jangan pernah percaya dengan apa yang dipandang mata, apa yang di dengar telinga, dan apa yang keluar dari bibir seseorang. Karena semua itu hanyalah tipuan jika kau tidak terikat dengannya dalam  ikatan pernikahan. Jangan pernah katakan bahwa tempat curhatmu adalah laki-laki yang baik. Sebab kau tidak pernah hidup serumah dengannya. Menemani siang malamnya, susah senangnya. Sehingga baik buruknya tidak pernah kau sadari.”
PERCAYALAH, Jika Allah sudah mengikatmu dengan seseorang dalam ikatan pernikahan maka orang tersebut  pastilah yang terbaik untuk menemanimu sepanjang perjalanan. Kalaupun di tengah jalan ada tindakan kekerasan  dan kemaksiatan yang besar semisal berzina, maka tingglkanlah dengan cara  yang baik-baik. Bukan malah ikut balas dendam dengan selingkuh. Jika kita melakukan itu pada dasarnya  sifat kita sama dengan pasangan kita.
 Andai Saya mengibaratkan kepuasan kenikmatan  dengan makanan. Ada orang yang hanya makan nasi dengan ikan, ada yang makan jagung, ada yang makan daging, dan jenis makanan yang lainnya. Meskipun berbeda makanannya Dengan rasa yang bermacam macam tetapi semua orang yang makan tetap akan mendapatkan rasa “kenyang “ yang sama. Tidak akan berbeda rasa kenyang antara yang satu dengan yang lainnya.
Maka dari itu, Orang barat, orang eropa, orang indo tetap akan merasakan org****  yang sama.  Jadi kita memilih jalan yang halal atau jalan yang haram pada dasarnya, kenikmatan itu tetap akan berbatas pada nilai yang sama. Dan akan berhenti pada batas atau puncak yang sama. 

 
Tentang Hidup
Sahabat, Hidup ini bukanlah hanya soal urusan perut dan dibawah perut.  Karena jika hidup hanya mencari itu semata maka kita tidak ubahnya dengan binatang.  Yang bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara hanya untuk urusan perut dan dibawah perut.
Tetapi hidup adalah soal “ibadah” hamba dalam menyembah kepada Tuhannya. Tentang mencari rezeki dan nikmat yang halal yang dituntun oleh agama.  Yang suatu saat hidup akan berhenti jika waktunya tiba. Hingga kemudian  hamba tersebut mempertanggung-jawabkan seluruh yang dia perbuat dihadapan Allah SWT.
Maka dari itu, Jangan tertipu dengan kepuasan yang haram dengan selingkuh . Karena dia hanya akan mendapatkan bencana yang akan meruntuhkan istana Keluarga yang  sudah dibangun dengan susah payah.

 
Lalu apa standar kebahagian itu?
Standar kebahagiaan adalah sebenarnya simple. Yaitu ketika kita bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan masing masing dengan ridho dan keikhlasan. Maka yakinlah semua perbedaan itu akan melebur dengan sendirinya.
Tidak perlu tergiur dengan nikmat kepuasan  yang haram karena senikmat-nikmatnya yang haram, sepuas-puasnya yang haram tidak akan pernah menggantikan Yang halal. “karena yang halal adalah yang Nikmat”.  Gak percaya? Tak perlu dicoba jika yang halal sudah pasti rasanya. J
Tertarik dengan yang halal? Maka  Carilah dengan jalan Allah.